1. Pendahuluan

Pengembangan dan pendayagunaan pariwisata secara optimal mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mempertimbangkan hal tersebut maka penanganan yang baik sangat diperlukan dalam upaya pengembangan obyek-obyek wisata di Indonesia. Dunia kepariwisataan harus mulai meninggalkan tentang perencanaan jangka pendek dan harus mampu melihat dalam prespektif jangka panjang dengan memperhitungkan segala pengaruh yang mungkin akan timbul dan berpengaruh terhadap dunia kepariwisataan. Tugas ini dilakukan untuk mengetahui potensi obyek wisata budaya Petirtaan Jolotundo di Trawas Mojokerto, yang merupakan salah satu obyek wisata budaya di wilayah mojokerto jawa timur. Petirtaan jolotundo  adalah sebuah bangunan masa lampau yang dahulu kala merupakan pemandian atau kolam yang dibuat pada masa kerajaan majapahit.

Petirtaan Jolotundo secara administrative terletak di dukuh Balekambang, desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis tepatnya terletak di lereng Gunung Penanggungan. Petirtaan Jolotundo memiliki panjang 16,85 M, lebar 13,52 M dan kedalaman 5,20 M dengan material utama dari batu andesit. Sesuai dengan namanya, fungsi pertitaan jolotundo yang berbentuk empat persegi panjang dengan teras di tengah dan puncak pancuran di tngah-tengahnya ternyata mempunyai arti simbolis sebagai gunung suci tempat bersemayam para dewa. Konsepsi ini sudah dikenal sejak jaman prasejarah masa megalitik yang menganggap gunung sebagai unsur tertinggi tempat bersemayamnya roh nenek moyang.

Pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan untuk meningkatkan permintaan pariwisata di suatu obyek wisata. Namun tidak serta merta pemanfaatan sumber daya alam yang bertujuan untuk pembangunan di kawasan obyek wisata dilakukan tanpa mengindahkan kelestarian sumber daya alam di suatu obyek wisata tertentu. Kecamatan Trawas memiliki potensi untuk dikembangkan. Hal tersebut dapat dilihat melalui keindahan panorama alamnya. Namun potensi yang tersebut masih kurang didukung oleh kemudahan akses untuk mencapai lokasi wisata tersebut, dimana tidak adanya transportasi umum menuju obyek wisata ini, belum optimalnya pemasaran yang dapat berperan sebagai ujung tombak pemasaran pariwisata,sebagai media informasi, lokasi parkir khusus yang relative sempit, Oleh karena itu perlu adanya penerapan sistem pengelolaan yang lebih baik dan menentukan prioritas strategi pengembangan obyek wisata tersebut atas dasar mengetahui faktor-faktor permintaan dan prioritas strategi yang perlu dilakukan untuk pengelolaan di kawasan obyek wisata Petilasan Jolotundo menjadi lebih baik dan menarik.

Dari latar belakang masalah yang ada diatas dapat diambil permasalahan :

  1. Bagaimana lokasi dari petirtaan jolotundo
  2. Apa yang dapat dijual di petirtaan jolotundo
  3. Berapa banyak pengunjung petirtaan jolotundo
  4. Kepada Siapa petirtaan jolotundo di jual
  5. Bagaimana batas-batas wilayahnya
  6. Bagaimana analisis SWOT petirtaan jolotundo

2. Landasan Teori

Menurut Koen Meyers (2009) Pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu dari tempat tinggal semula ke daerah tujuan dengan alasan bukan  untuk menetap atau mencari nafkah melainkan hanya untuk memenuhi  rasa ingin tahu, menghabiskan waktu senggang atau libur serta tujuan-tujuan lainnya. Sedangkan Menurut Undang-undang no 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Pariwisata adalah “Berbagai macam kegiatan wisata dan didukung fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha” Menurut WTO atau World Tourism Organization, Pariwisata adalah kegiatan manusia yang melakukan perjalanan ke dan tinggal di daerah tujuan di luar lingkungan kesehariannya. Dan juga menurut Richard Sihite (2010 Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan  tamasya dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. Dan dapat disimpulkan bahwa yang dikatakan Pariwisata adalah perjalanan seseorang dengan meninggalkan aktifitas sehari-hari dengan menikmati pelayanan yang disiapkan oleh orang lain.

  • Jenis Wisata

Jenis wisata yang dapat kita ketahui menurut motif wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Menurut Pendit (1994), Jenis pariwisata tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Wisata Budaya

Wisata Budaya adalah : perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, budaya dan seni mereka. Seiring perjalanan serupa ini disatukan dengan kesempatan–kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan–kegiatan budaya, seperti eksposisi seni (seni tari, seni drama, seni musik, dan seni suara), atau kegiatan yang bermotif kesejarahan dan sebagainya

        2.1 Wisata Maritim atau Bahari

Wisata Maritim atau Bahari adalah :Jenis wisata ini banyak dikaitkan dengan kegiatan olah raga di air, lebih–lebih di danau, pantai, teluk, atau laut seperti memancing, berlayar, menyelam sambil melakukan pemotretan, kompetisi berselancar, balapan mendayung, melihat–lihat taman laut dengan pemandangan indah di bawah permukaan air serta berbagai rekreasi perairan yang banyak dilakukan didaerah–daerah atau negara–negara maritim, di Laut Karibia, Hawaii, Tahiti, Fiji dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat dan daerah yang memiliki potensi wisata maritim ini, seperti misalnya Pulau–pulau Seribu di Teluk Jakarta, Danau Toba, pantai Pulau Bali dan pulau–pulau kecil disekitarnya, taman laut di Kepulauan Maluku dan sebagainya. Jenis ini disebut pula wisata tirta

       2.2 Wisata Cagar Alam (Taman Konservasi)

Wisata Cagar Alam adalah jenis wisata yang biasanya banyak diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha–usaha dengan jalan mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh undang–undang. Wisata cagar alam ini banyak dilakukan oleh para penggemar dan pecinta alam dalam kaitannya dengan kegemaran memotret binatang atau marga satwa serta pepohonan kembang beraneka warna yang memang mendapat perlindungan dari pemerintah dan masyarakat. Wisata ini banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang dan marga satwa yang langka serta tumbuh–tumbuhan yang jarang terdapat di tempat–tempat lain. Di Bali wisata Cagar Alam yang telah berkembang seperti Taman Nasional Bali Barat dan Kebun Raya Eka Karya

        2.3 Wisata Konvensi

Wisata Konversi adalah wisata jenis politik adalah apa yang dinamakan wisata konvensi. Berbagai negara pada dewasa ini membangun wisata konvensi ini dengan menyediakan fasilitas bangunan dengan ruangan–ruangan tempat bersidang bagi para peserta suatu konfrensi, musyawarah, konvensi atau pertemuan lainnya baik yang bersifat nasional maupun internasional. Jerman Barat misalnya memiliki Pusat Kongres Internasiona (International Convention Center) di Berlin, Philipina mempunyai PICC (Philippine International Convention Center) di Manila dan Indonesia mempunyai Balai Sidang Senayan di Jakarta untuk tempat penyelenggaraan sidang–sidang pertemuan besar dengan perlengkapan modern. Biro konvensi, baik yang ada di Berlin, Manila, atau Jakarta berusaha dengan keras untuk menarik organisasi atau badan–badan nasional maupun internasional untuk mengadakan persidangan mereka di pusat konvensi ini dengan menyediakan fasilitas akomodasi dan sarana pengangkutan dengan harga reduksi yang menarik serta menyajikan program–program atraksi yang menggiurkan.

        2.4 Wisata Pertanian (Agrowisata)

Wisata Pertanian juga disebut wisata industri, wisata pertanian ini adalah pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke proyek–proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi maupun melihat–lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman beraneka warna dan suburnya pembibitan berbagai jenis sayur–mayur dan palawija di sekitar perkebunan yang dikunjungi.

        2.5 Wisata Buru

Wisata buru merupakan Jenis wisata yang banyak dilakukan di negeri–negeri yang memang memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakan oleh berbagai agen atau biro perjalanan. Wisata buru ini diatur dalam bentuk safari buru ke daerah atau hutan yang telah ditetapkan oleh pemerintah negara yang bersangkutan, seperti berbagai negeri di Afrika untuk berburu gajah, singa, ziraf, dan sebagainya. Di India, ada daerah–daerah yang memang disediakan untuk berburu macan, badak dan sebagainya, sedangkan di Indonesia, pemerintah membuka wisata buru untuk daerah Baluran di Jawa Timur dimana wisatawan boleh menembak banteng atau babi hutan.

         2.6 Wisata Ziarah

Wisata ziarah merupakan Jenis wisata yang sedikit banyak dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Wisata ziarah banyak dilakukan oleh perorangan atau rombongan ke tempat–tempat suci, ke makam–makam orang besar atau pemimpin yang diagungkan, ke bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pemimpin sebagai manusia ajaib penuh legenda. Wisata ziarah ini banyak dihubungkan dengan niat atau hasrat sang wisatawan untuk memperoleh restu, kekuatan batin, keteguhan iman dan tidak jarang pula untuk tujuan memperoleh berkah dan kekayaan melimpah. Dalam hubungan ini, orang–orang Khatolik misalnya melakukan wisata ziarah ini ke Istana Vatikan di Roma, orang–orang Islam ke tanah suci, orang–orang Budha ke tempat–tempat suci agama Budha di India, Nepal, Tibet dan sebagainya. Di Indonesia banyak tempat–tempat suci atau keramat yang dikunjungi oleh umat-umat beragama tertentu, misalnya seperti Candi Borobudur, Prambanan, Pura Basakih di Bali, Sendangsono di Jawa Tengah, makam Wali Songo, Gunung Kawi, makam Bung Karno di Blitar dan sebagainya. Banyak agen atau biro perjalanan menawarkan wisata ziarah ini pada waktu–waktu tertentu dengan fasilitas akomodasi dan sarana angkuatan yang diberi reduksi menarik ke tempat–tempat tersebut di atas.

3. Pembahasan

3.1 Lokasi

Petirtaan Jolotundo sebuah Kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang berbatasan dengan Sidoarjo dan Pasuruan, Petirtaan Jolotundo adalah lembah yang diapit oleh dua gunung, yaitu Gunung Welirang dan Penanggungan.secara administrative terletak di dukuh Balekambang, desa Seloliman, Trawas, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis tepatnya terletak di lereng Gunung Penanggungan. Petirtaan Jolotundo memiliki panjang 16,85 M, lebar 13,52 M dan kedalaman 5,20 M dengan material utama dari batu andesit.

3.2 Apa yang dapat dijual

Di Petirtaan Jolotundo Trawas merupakan obyek wisata yang berada di lereng pegunungan dan Petirtaan Jolotundo yang berbentuk empat persegi panjang dengan teras di tengah dan puncak pancuran di tengah-tengah ternyata memiliki arti simbolis sebagai gambaran Mahameru (Gunung Semeru). Dalam konsepsi Hindu, Mahameru dianggap sebagai gunung suci tempat bersemayam para dewa. Konsepsi ini sebenarnya telah dikenal semenjak jaman prasejarah (masa Megalitikum) yang menganggap gunung sebagai unsur tertinggi tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Petirtaan Jolotundo dianggap pula melambangkan pengadukan lautan dalam cerita “Amrtamanthana” yang menceritakan proses mendapatkan air suci dengan menggunakan Gunung Mahameru yang dililit oleh ular Batara Wasuki. Berdasarkan hal itu, Petirtaan Jolotundo disamakan dengan lautan, sedangkan teras dengan pancuran berbentuk silindris yang dililit seekor ular melambangkan bentuk Mahameru. Air yang keluar dari pancuran itu sendiri dianggap air suci atau “Amrta”. Dari berbagai penelitian terdapat perbedaan pendapat mengenai fungsi petirtaan ini. Beberapa ahli seperti Shutterheim, Krom, Vanstein Callenfels beranggapan bahwa Jolotundo merupakan tempat pemakaman. Namun pendapat tersebut dibantah oleh beberapa ahli lain yang menganggap sebaliknya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Soekmono bahwa candi bukanlah makam. Selain itu bukti arkeologis lain juga menunjukkan bahwa Petirtaan Jolotundo dibangun oleh Raja Udayana pada saat beliau berusia 14 tahun. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Soekartiningsih maka fungsi petirtaan ini adalah sebagai monumen pernyataan dan keberadaan diri Raja Udayana saat mengundurkan diri dengan bersemedi dalam rangka menghimpun kekuatan yang akan digunakannya untuk kembali menduduki tahta di Bali. Petirtaan Jolotundo pada dasarnya merupakan kolam dengan ukuran 16X13 meter persegi, menghadap ke Barat. Petirtaan ini dibuat dengan memotong sebagian lereng Barat Gunung Penanggungan. Di sudut tenggara dan timur laut terdapat masing-masing sebuah kolam kecil. Di atas kolam kecil tersebut terdapat bangunan seperti candi, yaitu semakin ke atas semakin meruncing yang menempel pada dinding belakang. Bangunan ini mempunyai dua relung yang pada bagian atas masing-masing relung dihiasi. Relung bagian atas telah kosong, sedangkan relung bawah terdapat arca naga yang berfungsi sebagai saluran air dan dinding belakang ke kolam kecil. Bukti arkeologis yang berbentuk relief di petirtaan ini telah banyak yang rusak dan sebagian tidak diketahui tempat aslinya. Selain relief, di petirtaan ini terdapat empat buah prasasti pendek dengan huruf Jawa Kuno, yaitu : 1. angka tahun 899 saka di dinding atas sebelah kiri, 2. kata terbaca Gempeng di dinding atas sebelah kanan, 3. kata terbaca Udayana di sudut tenggara, 4. kata terbaca Mragayawati di sudut tenggara. Empat inskripsi pendek ini semakin melengkapi aspek kesejarahan Petirtaan Jolotundo. Banyak ahli sepakat bahwa angka tahun 899 saka merupakan tahun berdirinya Petirtaan Jolotundo. Bila demikian adanya maka pada tahun tersebut Udayana telah berumur 14 tahun. Inskripsi angka tahun tersebut menjadi semakin menarik bila dikaitkan dengan cerita yang ada di relief Jolotundo. Cerita tentang penculikan Mrgawati yang sedang mengandung Udayana kiranya dapat disejajarkan dengan proses pengungsian Udayana ke Jawa Timur ketika Bali sedang dilanda pralaya (musibah/bencana peperangan). Peristiwa ini berkaitan erat dengan inskripsi yang berbunyi “gempeng”.

Di kolam Petirtaan Jolotundo, traveler bisa saksikan ikan-ikan besar dalam jumlah yang banyak. Ikan-ikan itu terlihat jinak, terkadang mulutnya yang lucu menjilati kaki wisatawan yang berendam di kolam itu. Mereka berlarian kesana kemari berebut makanan dari para turis yang menaburkan pelet ikan. Anehnya tidak satupun wisatawan yang berani iseng dengan mengambil atau bahkan mencuri ikan-ikan yang konon dianggap keramat itu.

Sebagian masyarakat sudah mengetahui dari cerita mulut ke mulut kalau air di petirtaan ini ampuh dan berkhasiat obat. Pernah ada peneliti asing yang mencoba menganalisis kandungan kimia dan fisika air Petirtaan Jolotundo, dari hasil penelitian itu diketahui kalau air petirtaan ini memang termasuk yang terbagus di dunia. Konon air asli petirtaan ini bisa tahan sekian lama dengan tidak mengalami perubahan secara fisika maupun kimia tanpa diproses lebih lanjut.

3.4 How Much

Kalau dilihat dari perkembangan petirtaan jolotundo yang berada di daerah Trawas, pengunjung yang ada sangat bervariatif, Dalam waktu waktu tertentu seperti saat perayaan keagamaan agama hindu, acara kejawen (Suroan) obyek wisata petirtaan jolotundo ini sangat ramai diperkirakan sampai ribuan pengunjung, Tetapi dihari hari biasa wisatawan yang berkunjung diperkirakan antara 25 sampai 100 pengunjung.

3.5 To Whom

Obyek wisata ini  dikenal oleh masyarakat adalah :

  1. obyek wisata religi

Kenapa dapat dikatakan obyek wisata religi karena diyakini bahwa Dalam konsepsi Hindu, Mahameru dianggap sebagai gunung suci tempat bersemayam para dewa. Konsepsi ini sebenarnya telah dikenal semenjak jaman prasejarah (masa Megalitikum) yang menganggap gunung sebagai unsur tertinggi tempat bersemayamnya roh nenek moyang.

  1. Obyek wisata budaya

Kenapa dapat dikatakan obyek wisata budaya karena Petirtaan jolotundo ini dibuat dengan memotong sebagian lereng Barat Gunung Penanggungan. Di sudut tenggara dan timur laut terdapat masing-masing sebuah kolam kecil. Di atas kolam kecil tersebut terdapat bangunan seperti candi, yaitu semakin ke atas semakin meruncing yang menempel pada dinding belakang. Bangunan ini mempunyai dua relung yang pada bagian atas masing-masing relung dihiasi. Relung bagian atas telah kosong, sedangkan relung bawah terdapat arca naga yang berfungsi sebagai saluran air dan dinding belakang ke kolam kecil. Bukti arkeologis yang berbentuk relief di petirtaan ini telah banyak yang rusak dan sebagian tidak diketahui tempat aslinya. Selain relief, di petirtaan ini terdapat empat buah prasasti pendek dengan huruf Jawa Kuno, yaitu : 1. angka tahun 899 saka di dinding atas sebelah kiri, 2. kata terbaca Gempeng di dinding atas sebelah kanan, 3. kata terbaca Udayana di sudut tenggara, 4. kata terbaca Mragayawati di sudut tenggara. Empat inskripsi pendek ini semakin melengkapi aspek kesejarahan Petirtaan Jolotundo. Banyak ahli sepakat bahwa angka tahun 899 saka merupakan tahun berdirinya Petirtaan Jolotundo

Selain itu berdasarkan beberapa penelitian sumber airnya adalah salah satu yang terjernih di dunia. Ada ratusan ikan dari berbagai jenis hidup liar di dalamnya. Ikan-ikan itu terlihat jinak, terkadang mulutnya yang lucu menjilati kaki wisatawan yang berendam di kolam itu. Mereka berlarian kesana kemari berebut makanan dari para turis yang menaburkan pelet ikan. Anehnya tidak satupun wisatawan yang berani iseng dengan mengambil atau bahkan mencuri ikan-ikan yang konon dianggap keramat itu.Di sisi kanan dan kiri bagian atas candi terdapat dua kolam kecil dengan pancuran air yang saat ini difungsikan sebagai tempat mandi bagi pengunjung. Terpisah untuk pengunjung laki-laki dan perempuan. Saat mandi banyak pengunjung yang juga langsung minum air yang mengalir di pancuran. Pengunjung tidak diperbolehkan menggunakan sabun ataupun sampo agar tidak mencemari air dan ikan-ikan yang hidup di kolam. Namun pengunjung diijinkan untuk membawa pulang air Jolotundo. Warung-warung kecil di sekitar lokasi banyak yang menjual jerigen tempat air. Karena air yang ada di petirtaan jolotundo diibaratkan air zam-zam. Udara sejuk khas pegunungan tak membuat pengunjung malas untuk mandi karena tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Jolotundo tanpa menikmati kesegaran airnya.

  1. Obyek wisata cagar alam

Kenapa dapat dikatakan obyek wisata cagar alam karena Petirtaan jolotundo berada di lereng gunung penanggungan yang dahulu kala gunung penanggungan merupakan gunung berapi dengan ketinggian 1653 meter dan mempunyai bentuk yang unik karena puncaknya dikelilingi oleh delapan anak gunung. Di sekililing gunung penanggungan juga banyak sekali sebaran tinggalan arkeologis seperti candi siwa, candi naga 1, candi naga 2, candi bayi dan masih banyak yang semua candi tersebut mempunyai arti sendiri-sendiri.

3.6 Make Your SWOT’s

Dalam perkembangan obyek wisata petirtaan jolotundo trawas mojokerto ada hal-hal yang dapat diperhatikan diantaranya :

  1. Strengths / kekuatan

Kekuatan yang ada di petirtaan jolotundo adalah obyek wisata itu masih sangat asli pegunungan, petirtaan jolotundo merupakan obyek wisata dengan banyak jenis diantaranya obyek wisata religi, obyek wisata budaya, dan obyek wisata cagar alam.

2. Weaknesses / kelemahan

Belum adanya transportasi umum ke arah obyek wisata ini tersebut, yang dapat dipergunakan untuk pengunjung dapat mengunjungi obyek wisata tersebut apabila tidak mempergunakan kendaraan pribadi.

3. Opportunities / peluang

Peluang dari obyek wisata petirtaan jolotundo adalah masih dapat dikembangkannya obyek wisata dengan melakukan promosi, dijadikannya wisata paket yang ada di wilayah kec. Trawas, dapat didirikannya homestay desa wisata.

4. Threats / tantangan

Banyaknya daerah-daerah yang mempunyai keunggulan yang sama di daerah tersebut sehingga apabila tidak adanya sinkronisasi antara dinas perhutani, Dinas Pariwisata dan PPCA dikhawatirkan obyek wisata tersebut tidak terawat, lama kelamaan menjadi punah.

4. Penutup

Petirtaan jolotundo yang berada di Trawas Mojokerto merupakan obyek wisata alam yang banyak mempunyai potensi pengembangan dilingkungan tersebut. Petirtaan jolotundo merupakan obyek wisata yang memerlukan perhatian lebih karena obyek wisata ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan agar obyek wisata peninggalan sejarah tidak punah. Obyek wisata Petirtaan jolotundo yang berada dalam satu tempat dapat banyak sekali tujuan wisata yang ada, diantaranya wisata religi, wisata budaya, wisata cagar alam dan wisata edukasi. Yang diharapkan karena obyek wisata ini masih belum begitu terkenal karena lokasinya yang berada di lereng gunung hendaknya pemerintahan terkait beserta masyarakat setempat mulai mengelola dengan serius. diantaranya Dinas Perhutani, Dinas Pariwisata dan Bagian pengembangan Cagar Alam bekerjasama untuk melakukan pengembangan obyek wisata petirtaan jolotundo sehingga obyek wisata petirtaan jolotundo dikenal secara internasional. Dan dapat dikatakan petirtaan jolotundo masih dalam fase keterlibatan atau Involvement phase.             Dimana fase ini merupakan peningkatan jumlah kunjungan   wisatawan dengan adanya inisiatif dari sebagian masyarakat local yang turut serta menyediakan berbagai fasilitas yang memang  khusus diperuntukkan bagi wisatawan

Categories: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *