A. Pergaulan dan Mengenal Sifat Orang Barat

Pergaulan dengan bangsa lain akan menimbulkan masalah bila kita tidak mengetahui sifat dan kebiasaan merekan sebelumnya. Orang barat mempunyai sifat dan kebiasasaan sendiri dalam etiket pergaulan dan berbeda dari oran Asia. Bangsa Asia yang barangkali dalam berbisnis mirip dengan kebiasaan orang barat mungkin orang Jepang.
       Orang barat pada umumnya agak bingung bila kita memperkenalkan diri dengan nama yang diberikan orang tua, seperti “Suyono”. Orang barat akan mengira bahwa Suyono adalah nama keluarga. Jadi, bila hendak mengadakan kontak bisnis dengan orang barat akan lebih baik menyatakan nama keluarga.
         Orang barat juga tidak senang bila berbicara dengan seseorang dalam jarak yang terlalu dekat. Bila kita berbicara dengan mereka dan mereka melangkah mundur berarti kita terlalu dekat. Mereka juga sangat menghargai tepat waktu dan bila kita sering terlambat tidak akan dipercaya lagi baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pekerjaan.
         Bila berbicara dengan orang barat dan dia menyatakan “ya” berarti kita sudah membuat janji dengan dia. Orang barat memperhatikan bila kita mengatakan sesuatu dan bila suda mengatakan “ya” sudah dianggap membuat janji.
           Bila makan dengan orang barat, dan belum ada janji sebelumnya dianggap bahwa msing-masing akan membayar sendiri makanannya. Untuk orang barat, hubungan keluarga tidak dekat seperti di Indonesia sehingga pertanyaan mengenai neneknya ataupun paman atau bibinya dianggap pertanyaan yang tidak perlu.
           Saat berbicara mengenai sex mereka lebih terbuka. Namun, bila ia senang pada seorang wanita tidak akan memperlihatkan, tetapi lebih banyak diajak berbicara. Mungkin juga akan mengundang ke rumahnya atau mengajak pergi bertamasya bersama-sama. Jadi, bagi wanita Indonesia bila diajak bersama berdua makan dapat juga diartikan salah karena bagi orang barat sudah merupakan ikatan. Wanita barat lebih sederhana dan jarang pada hari-hari baisa memperelok diri dan berpakaian yang mencolok.
            Bila berbicara lebih menyenangkan kita dilakukan dengan tenang tanpa tekanan pada suara. Bila ada suatu persoalan biasanya langsung dibicarakan, tidak melalui pembicaraan lain seperti yang biasa kita lakukan. Juga bila ada sesuatu yang kurang disetujuinya, biasanya dibantah langsung. Buat mereka, hal ini bukan berarti kurang ajar namun lebih dikatakan jujur karena kejujuran dianggap suatu sikap yang positif. Pada kita, sesuatu yang jelek sering ditutup dengan kata-kata yang lebih baik. Namun, hal ini tidak disukai oleh orang barat.
              Bila di negara barat kita melakukan pelanggaran biasanya tidak langsung dihukum, tetapi diberi peringatan terlebih dahulu. Lain dari polisi disini. Jika seeorang ketahuan mencuri oleh orang barat diharapkan bahwa orang tersebut merasa malu. Malu bukan karena ketahuan mencuri, tetapi malu karena bersalah. Sebaliknya, bila salah satu keluarga orang barat membuat kesalahan, keluarga yang lain tidak akan merasa malu karena dianggap sudah bukan urusannya lagi. Bila seorang barat berbuat sesuatu dan merasa menyesal maka dengan terus terang ia akan menyatakan penyesalannya dengan meminta maaf.
             Orang Belanda misalnya, dengan perbuatannya menjajah Indonesia dahulu mereka menyesal dan penyesalan itu dinyatakan antara lain dengan tulisan-tulisan di buku-buku atau juga berupa bantuan.
             Orang barat akan menganggap kesehatan itu penting. Karena itu, selagi toas waktu minum mereka sering mengucapkan “to your health”. Bila kita memberikan sesuatu kepada orang barat sebagai tanda mata dan dalam keadaan terbungkus maka biasanya bungkusannya dibuka di muka kita dan setelah mengetahui isinya mengucapkan terima kasih. Bila orang barat mengadakan pesta maka segala kepeluan dilaksanakan oleh perusahaan katering.
B. Bergaul dengan Orang Asing
Hindakan untuk bertanya mengenai soal pribadi kepada orang asing baik barat maupun Asia. Orang Arab akan tersinggung bila kita menanyakan istri dan anaknya. Orang Prancis akan berdebat mengenai politik dengan orang yang baru dikenalnya, tetapi enggan untuk membicarakan soal kehidupan keluarga ataupun persoalan pribadinya. Demikian juga sikap mereka terhadap seorang kenalannya. Di banyak negara sering terjadi gejolak politk. Bila kita bertemu dengan seseorang dari negara itu lebih baik jangan membicarkan soal politik negaranya.
        Di Eropa, buah tangan berupa bunga merupakan buah tangan yang disuka. Lebih baik membawa kumpulan bunga yang beraneka rupa dan hindari jumlah angka 13 karena dianggap angka sial. Juga jangan membawa bunga mawar atau ros karena hanya diberikan kepada seorang kekasih. Juga kembang putih dapat dianggap sebagai tanda duka cita. Buah tangan baik berupa bunga atau yang lainnya lebih baik diberikan sebelum makan malam atau pada hari ulang tahunnya.
          Di Eropa, dan banyak negara pemberian buah tangan kepada istri atau anak adalah cara yang biasa untuk mengambil hati tuan rumah. Tetapi hindarkan untuk memberikan kepada istrinya suatu pakaian pribadi atau perhiasan. Parfum dianggap suatu yang pribadi sekali buat orang Eropa. Jadi, lebih baik hindarkan untuk memberinya.
           Di negeri Arab di mana-mana istri seseorang tidak perlu diketahui orang lain janganlah sampai memberi buah tangan untuk menghindari salah paham yang dapat menuju ke permusuhan. Jika kita hendak dijamu di suatu negara asing, lebih baik bertanya lebih dahulu ke kedutaan kita tentang kebiasaan yang ada.
C. Pandangan Orang Barat
Pandangan orang barat terhadap kita adalah bahwa bangsa Indonesia tidak bersifat terlalu formal, kita dapat menyesuaikan diri, dan pada umumnya baik. Dalam pergaulan supel dan bersopan santun. Sifat yang tidak suka mengkritik terhadap orang barat dibuktikan bahwa biarpun mereka pandang orang barat berkelakuan kurang baik mereka akan diam saja. Orang Indonesia lebih dari orang barat dalam kehidupannya lebih diarahkan pada perasaan.
        Hubungan sosial di Indonesia banyak dipengaruhi oleh daerah asal seseorang, status seseorang. Bila di luar negeri seorang pegawai merasa bahwa ia harus bekerja untuk perusahaannya, di Indonesia seorang pegawai meras bekerja untuk orang yang memberikan pekerjaan kepadanya. Karena itu, pegawai ini akan mengerjakan segala sesuatu agar kepala atau majikannya senang. Ia tidak akan mengkritik bos. Sementara orang barat biasanya mendapat instruksi secara umu, sedangkan pelaksanaannya tergantung dari inisiatif dirinya. Juga diperhatikan oleh barat bahwa kegemaran membaca di Indonesia sangat kurang.
        Menurut orang barat, pandangan orang-orang Indonesia ke masa depan tidak terlalu jauh, hanya ke masa enam bulan hingga setahun. Manajer tingkat bawah ataupun bawahan mengharapkan dari atasannya
1. sifat autokratis atau kebapakan
2. rasa keterikatan yang erat terhadap otoritas manajer
3. status atasan akan berpengaruh terhadap otoritas manajer di bawahnya. Untuk memberi motivasi terhadap bawahan akan kurang berhasil bila gaji atau penapat bawahan tidak mencukupi dan kurang diberikan tanggung jawab dan kepercayaan terhadap bawahannya.
          Kolektivitas atau kebersamaan dalam menjalankan manajemen di Indonesia mempunyai akibat :
1. hubungan antar atasan dan bawahan lebih banyak berdasarkan moral daripada perhitungan;
2. bawahan mempunyai ikatan yang kuat terhadap keluarganya;
3. ada kecenderungan yang kuat terhadap kerja sama yang baik dan tidak kehilangan muka;
4. tindakan atau pendapat cenderung dilakukan berdasarkan kesepakatan;
5. beberapa tugas dianggap sebagai tanggung jawab bersama, dan
6. dalam hubungan bisnis, hubungan yang baik diutamakan dibandingkan dengan ketentuan-ketentuan di dalamnya.
        Dalam menerima karyawan di perusahaan barat, mereka mendapatkan bahwa pelamar yang berijazah ada kecenderungan bahwa ijazah lebih dipentingkan dari bahan pelajarannya sehingga mengejar ijazah lebih penting ketimbang mengetahui isinya karena ijazah memberi mereka status. Tanpa memperhitungkan cara bagaimana ijazah itu diperoleh.
        
Categories: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *